Archive for the ‘Feng Shui’ Category

Menjual Properti dengan Feng Shui

Wednesday, May 6th, 2009

Ilmu Feng shui sebagai ilmu tata letak bangunan Cina kuno sudah berkembang pesat dewasa ini. Bahkan di Indonesia penggunaanya tak hanya untuk mendesain bangunan rumah secara perorangan. Tapi para developer dalam pengembangan kota maupun kawasan perumahan pun konon sudah mulai menerapkan ilmu Feng shui. Benarkah demikian?

Penerapan ilmu feng shui dalam tata letak bangunan oleh masyarakat etnis Tionghoa secara perorangan, mungkin sudah jamak kita ketahui. Tapi bagaimana dengan aplikasi ilmu kuno asal Tiongkok tersebut dalam pengembangan suatu kawasan perumahan? Apakah developer-developer terkemuka Indonesia juga melakukannya? Tak mudah menjawabnya memang.

Dalam soal kepercayaan kepada ilmu feng shui, Presiden Director agen real estate Indoproperty, Hary Jap memang membedakan adanya feng shui yang ilmiah dan feng shui yang tidak ilmiah. Dan Hary agak kesulitan saat menghadapi pembeli properti yang menggunakan feng shui tak ilmiah.

“Satu contoh ekstrim yg pernah dialami oleh marketing kita, dimana jadi tidaknya suatu transaksi properti itu ditentukan oleh ahli feng shui pendamping,” ujar Hary.

Pengembang Summarecon Kelapa Gading memang sejak awal sudah menyadari kepekaan sebagian besar penghuni kawasan yang dijuluki sebagai Kepala Naga tersebut terhadap ilmu feng shui yang cukup tinggi.

Pertanyaan-pertanyaan kritis konsumen properti terhadap pengembang terkait dengan aplikasi ilmu feng shui, sebagian besar memang hampir senada. Salah satunya adalah soal berapa jumlah anak tangga.

Kalau Paramount Serpong menyebut motto, connecting nature to life sebagai pengejawantahan prinsip-prinsip feng shui dalam produk mereka, tidak demikian dengan Summarecon Kelapa Gading. Adrianto Adi menyebut apa yang mereka kembangkan di Gading Park View sebagai wujud kongkrit penerapan fengshui di proyek-proyek yang dikembangkan oleh PT. Summarecon Agung, Tbk. ini.

Lain developer, lain pula broker properti. Kalau developer berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan konsumen, broker justru lebih bisa bersiasat dengan pertimbangan feng shui yang dipercaya konsumen.

Konsumen properti saat ini memang makin kritis dan teliti ketika mereka akan memutuskan untuk membeli suatu proyek properti. Dan demi pelayanan terhadap konsumennya, developer yang baik tentu akan berusaha untuk melayani berbagai kebutuhan konsumennya yang spesifik tersebut, termasuk mengaplikasikan pertimbangan ilmu feng shui.

Sumber: realestat.wordpress.com

Pilihan Properti di Kawasan Kepala Naga

Wednesday, May 6th, 2009

Ada satu kawasan di Jabodetabek yang selalu menyita perhatian konsumen properti, yakni kawasan kepala naga. Daerah mana saja yang masuk kawasan kepala naga? Dan benarkah kawasan tersebut akan membawa hoki bagi penghuninya? Atau kepercayaan terhadap tuah kawasan tersebut hanya sekedar mitos?

Kalau ada kawasan di Jakarta yang propertinya tumbuh dengan stabil dan menjadi pilihan hunian serta tempat usaha favorit bagi penghuninya, kawasan ’kepala naga’ tentu adalah jawabnya. Menyebut namanya, kepala naga, orang tentu akan mengasosiasikan istilah itu dengan simbol-simbol populer dalam ilmu fengsui.

Memang, kalau merujuk daerah-daerah yang biasa disebut sebagai kawasan kepala naga di Jakarta, daerah-daerah tersebut kebanyakan memang dihuni oleh warga Tionghoa. Kelompok masyarakat yang memang dikenal mempercayai ilmu fengsui dalam pengambilan keputusan-keputusan penting hidupnya. Tapi tampaknya istilah kepala naga yang belakangan makin populer bagi sebagian konsumen properti ibukota itu tak dikenal dalam literatur ilmu fengsui. Setidaknya menurut pakar feng shui. Dr. Ir. Mauro Purnomo, M.Arch.

“Istilah kepala naga dalam istilah feng shui manapun tidak pernah ada. Itu salah kaprah. Kemungkinan besar istilah kepala naga ada kaitannya dengan persaingan bisnis.” Menurut Mauro, dalam ilmu feng shui, istilah yang dikenal adalah gunung naga atau naga hijau.

Terlepas dari benar tidaknya istilah kepala naga dalam ilmu feng shui, yang pasti beberapa kawasan di sebelah barat dan utara Jakarta yang berimpit dengan laut Jawa banyak diminati oleh kalangan entrepreneur yang tak lain adalah kaum Tionghoa.

“Masyarakat atau konsumen yang percaya feng shui, mereka biasanya memang pilih daerah yang dekat kepala naga. Kenapa? Karena daerah ini dipercaya dapat memmberikan keberuntungan, memberikan kemakmuran dan hoki. Jadi itu kenapa masyarakat suka tinggal di sana,” ujar Budhi S. Gozali.

Lalu daerah mana saja di Jakarta yang bisa dikategorikan daerah kepala naga? “Kalau daerah kepala naga di Jakarta, setahu saya adalah Kelapa Gading, Ancol, Pluit, Muara Karang, Pantai Indah Kapuk, dan juga Jakarta Barat spt Cengkareng dan sekitarnya merupakan daerah kepala naga,” sambung Budhi.

Begitu istimewanya kawasan kepala naga, membuat pengembang-pengembang terkemuka seperti tak mau ketinggalan untuk memasok produk-produk properti mereka di kawasan tersebut. KelompokSummarecon misalnya, sudah sejak tahun 1975 mengembangkan kawasan Kelapa Gading menjadi suatu kawasan favorit yang tumbuh dengan pesat hingga sekarang.

Pengembang lain, seperti Agung Sedayu Group bahkan melakukan kongsi dengan kelompok lain seperti Agung Podomoro dan Salim Group untuk menggarap proyek properti di kawasan kepala naga. Salah satunya adalah Bukit Golf Mediterania di Pantai Indah Kapuk.

Sementara itu kawasan lain yang dianggap masuk kategori kawasan kepala naga, yakni daerah Pluit, juga tak luput dari bidikan pengembang-pengembang besar. Agung Podomoro Group misalnya kini sedang mengembangkan kawasan hunian dan bisnis terpadu CBD Pluit di atas lahan seluas lebih 10 dari hektar. Selain membangun garden house, di kawasan tersebut juga akan berdiri lima menara kondominium, dua menara perkantoran serta deretan ruko. Karena sebagian besar masayarakat yang tinggal dan mengembangkan usaha di kawasan kepala naga adalah warga Tionghoa, mereka ternyata mempunyai kharakteristik yang khas.

Menurut Paulus Heryanto, Chief Executive Officer CBD Pluit, masyarakat yang tinggal di daerah Pluit dan sekitarnya kebanyakan adalah pedagang dan enterpreuner sejati yang lebih realistis dan benar-benar berhitung dalam mengonsumsi suatu produk, termasuk produk properti. Oleh karena itu pengembang lebih memilih untuk menawarkan produk yang benar-benar pasti dan nilainya setara dengan uang yang dikeluarkan konsumen.

Begitulah, terlepas istilah kepala naga hanya sekedar mitos atau memang faktual, yang pasti, bencana banjir yang sempat menimpa satu daerah di kawasan kepala naga, ternyata tak menyurutkan minat masyarakat untuk tetap memiliki hunian dan tempat usaha di kawasan tersebut.

Sumber: realestat.wordpress.com