Archive for May, 2009

Apartment dalam Superblok

Sunday, May 10th, 2009

Bisnis apartment di kota besar seperti Jakarta dalam dua tahun terakhir ini terus menunjukkan peningkatan yang sangat berarti. Bahkan yang baru-baru ini muncul yaitu trend sebuah apartment didalam kawasan mix used development atau dalam superblok. Konsepnya yaitu menyatukan apartment, kantor hotel, dan pusat belanja didalam satu kawasan. Superblok memang bukan bisnis kecil, karena didalamnya melibatkan pendanaan yang sangat besar. Nilai proyeknya bisa mencapai trilyunan rupiah. Maklum saja, selain membangun suatu kawasan terpadu, yang tidak kalah penting lagi, membutuhkan lahan yang luas dan berlokasi di jantung kota.

Karena itu, pengembang yang terjun di bisnis ini sudah punya reputasi sebagai pengembang raksasa. Lippo Group misalnya, membangun superblok Kemang Village di daerah Kemang Jakarta Selatan. Bakrie Group punya Rasuna Epicentrum di bilangan Kuningan. Djarum Group turut meramaikan bisnis superblok dengan mendirikan Grand Indonesia di lahan bekas Hotel Indonesia. Agung Podomoro Group memilih kawasan Tanjung Duren Jakarta Barat dengan membangun Podomoro City. Sementara Pakuwon Group memilih kawasan Gandaria Jakarta Selatan sebagai lokasi proyek Gandaria City.

Namanya juga mix use development. Maka fasilitas apartment yang tersedia pun terbilang lengkap dan terpadu. Mulai dari pusat perbelanjaan, perkantoran, sekolah, hingga ada superblok yang lokasinya sangat strategis menyediakan monorail station.

Menurut pengamat properti, Tirta Setiawan, gairah pengembang berlomba-lomba membangun apartment, menunjukkan bahwa peluang bisnis ini masih terbuka dan menjanjikan.

Sementara apartmen dalam superblok ini dalam pandangan Tirta, merupakan trend baru dalam pembangunan sebuah apartment. Bila sebelumnya apartment berdiri sendiri, dengan superblok semua fasilitas terdapat dalam satu area.

Ada tiga aspek yang menjadikan apartment dalam superblok ini begitu diminati oleh masyarakat. Yaitu kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal dengan fasilitas yang terpadu. Adanya keinginan sebagian besar masyarakat untuk kembali ke kota yang selama ini mereka tinggal di pinggir kota Jakarta. Serta ada juga karena gengsi dan tuntutan dari sebuah gaya hidup modern kaum urban.

Tinggal dalam apartment dikawasan superblok dengan segala kelengkapan fasilitasnya merupakan hunian yang ideal. Tetapi tentunya, tidak semua orang berminat tinggal disana. Dalam pengamatan Tirta Setiawan, konsep hunian di superblok memang banyak diminati oleh bangsa Asia. Tapi tidak demikian dengan warga negara Amereika Serikat maupun Eropa.

Sumber: realestat.wordpress.com

Apartment diluar Superblok

Sunday, May 10th, 2009

Maraknya pembangunan kawasan multifungsi atau one stop living di Jakarta menandakan peluang bisnis properti sampai tahun 2008 tetap terbuka. Namun kehadiran superblok dengan segala kelengkapan fasilitasnya tidak serta-merta mematikan bisnis sub-sektor properti lainnya. Baik itu bisnis perkantoran, pusat perbelanjaan, sampai apartment sekalipun. Buktinya, seiring dengan pertumbuhan superblok, pembangunan dan penjualan apartment diluar superblok rupanya masih tetap menjanjikan.

Seperti Permata Hijau Apartment, Permata Berlian Apartment, Senayan Residence Apartment,Pakubuwono Residence, Hampton’s Park, Sahid Sudirman Residence yang menyajikan konsep yang berbeda dan punya segmen pasar masing-masing.

Perbedaan konsep ini juga diakui oleh Lucky Cahyadi, Marketing Manager Sahid Sudirman Residence. Menurut Lucky, Sahid Sudirman Residence mengusung konsep “Serenity In The City”. Yang artinya konsep tempat tinggal yang tenang dan damai di sebuah kota metropolitan yang penuh dengan keramaian dan kebisingan. Fasilitas yang tersedia di Sahid Sudirman Residence berstandar hotel, seperti: laundry, room service, gym, swimming pool, tetapi yang membedakan Sahid Sudirman Residence dengan apartemen lain adalah pelayanan housekeeping 24 jam yang menjadikan penghuni serasa tinggal di service apartment, demikian papar Lucky Cahyadi.

Fasilitas berkelas hotel berbintang lima juga disediakan oleh Hampton’s Park Apartment. Apartment yang berdiri di kawasan seputar Pondok Indah ini, menurut Lili, menghadirkan nuansa Pulau Dewata sebagai konsep utamanya.

Karena keunikan, kelengkapan fasilitas serta target pasar yang berbeda, tidak menjadikan Hampton’s Park Apartment maupun Sahid Sudirman Residence khawatir akan kehadiran apartment-apartment didalam superblok. Menurut Lucky, pihaknya yakin akan daya tarik dan nilai lebih Sahid Sudirman Residence yang sangat berbeda dibandingkan dengan apartemen lainnya dikawasan yang sama. Konsumen atau pembeli juga mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam memilih apartemen yang ingin dibelinya.

Pendapat yang tidak jauh berbeda juga dilontarkan oleh Lili. Menurutnya, apartment yang berdiri sendiri seperti Hampton’s Park, punya privasi yang lebih tinggi.

Diluar kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada apartemen di dalam maupun di luar superblok. Tirta Setiawan menyambut positif kehadiran dua jenis apartment tersebut. Bahkan dalam pandangan Tirta, apartment sejauh ini masih menguntungkan untuk dijadikan instrumen investasi, asalkan mudah disewa dan mempunyai nilai sewa yang tinggi.

Sumber: realestat.wordpress.com

Properti Bintang 5 dengan Fasilitas Premium

Sunday, May 10th, 2009

:: The Albergo Tower

Untuk memenuhi kebutuhan akan hunian bagi kalangan atas di Jakarta, The Belleza menyediakan high-rise building atau kondominium mewah, Grand Aston Albergo di Belleza Residence. Kondominium ini merupakan icon gaya hidup baru di kawasan elit Permata Hijau. Kemewahan apa saj yang didapat di Grand Aston Albergo ini ?

Permata Hijau terus menunjukkan jati dirinya sebagai kawasan hunian eksklusif dan prestisius di Jakarta Selatan. Setelah dikepung dengan berbagai bangunan prestisius, Gapuraprima Group hadir dengan mega proyeknya, The Belleza. Proyek yang dibangun oleh PT Sumber Daya Nusaphala ini berdiri dilokasi yang sangat strategis, yaitu persis di pinggir Jalan Arteri Permata Hijau.

The Bellezza sengaja diposisikan bagi kalangan atas kota Jakarta. Dengan luas lahan sebesar 3,2 hektar, The Belleza merupakan deretan lima proyek properti yang meliputi apartemen dengan empat tower, shopping arcade, office building, sarana hiburan dan rekreasi, serta hotel berbintang yang semuanya ini dikemas dalam satu tema besar, yaitu “The Belleza 5 in 1 Living Community”. Eksistensi Permata Hijau sebagai kawasan hunian prestisius, dalam waktu bersamaan juga mendorong terciptanya permintaan atau demand terhadap pusat perbelanjaan di kawasan tersebut. Karena itu kemudian Gapuraprima Group menghadirkan The Belleza Shopping Arcade. Sebagai salah satu masterpiec-nya, shopping arcade ini merupakan mall bertaraf internasional dan menjadi locus bagi kaum urban dalam bersosialisasi dan berinteraksi.

Untuk memenuhi kebutuhan akan hunian bagi kalangan atas di Jakarta, The Belleza menyediakan kondominium mewah dengan arsitektur bergaya roman klasik. Desain seperti itu menyebabkan The Bellezza sebagai kompleks komersial yang unik. The AlbergoTower nama proyek baru ini-akan berdiri setinggi 38 lantai di pusat kompleks The Bellezza. Meski berkonsep service apartment, unit apartemen ini dijual dengan sistem strata title alias hak milik. Seluruhnya ada sekitar 200 unit yang terdiri dari satu kamar hingga tiga kamar. Kondominium ini dikelola oleh Aston Internasional, sebuah institusi bisnis yang sangat kompeten dan berpengalaman dalam mengelola kondominium mewah di berbagai negara.

Dengan konsep Town House in The Sky, Albergo terdiri dari berbagai unit kondominium mulai dari tipe studio dengan luas 45,5 meter persegi, tipe 3 kamar seluas 145,5 meter persegi, 4 unit junior penthouse, serta 2 unit penthouse di lantai 37. Demi menjaga privacy konsumen, untuk setiap unit apartemen dilengkapi dengan lift yang langsung menuju kondominium masing-masing penghuni. Orang yang tidak memiliki kartu akses tidak bisa membuka lift yang langsung menuju halaman tempat hunian penghuni. Sebelum membuka pintu tempat hunian, penghuni dapat melihat apakah tamu yang datang sesuai dengan yang diharapkan.

Sumber: realestat.wordpress.com

Apartemen Menengah: Fasilitas Oke, Harga Terjangkau

Sunday, May 10th, 2009

Banyaknya jumlah apartemen di Jakarta memudahkan siapapun yang berniat tinggal di hunian vertikal. Tapi tentu tidak semua fasilitas yang terdapat di apartemen tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda. Berikut fasilitas-fasilitas yang bisa Anda dapatkan dengan tinggal di apartemen menengah tengah kota, berikut tips dalam memilih apartemen.

Waku terus berjalan, jaman pun lambat laun akan berubah. Dalam kondisi seperti sekarang warga Ibu Kota dan kota-kota lainnya perlu diinformasikan bahwa tinggal di apartemen bukan berarti membeli kemewahan. Tidak semua apartemen itu mahal. Hanya apartemen papan atas yang harganya beberapa miliar rupiah per unit. Tapi sesungguhnya masih banyak apartemen kelas menengah yang dapat dijangkau sebagian warga kelas menengah dengan harga cukup bersahabat.

Melihat betapa besarnya peluang ini, banyak juga pengembang besar yang tertarik membangun apartemen untuk segmen menengah. Mengenai keuntungan, ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengembang.

Mengenai fasilitas, rata-rata yang ditawarkan oleh apartemen menengah sudah memenuhi standar untuk segmen tersebut. Grand Kartini misalnya, apartemen yang per unitnya dijual antara Rp 200 juta hingga Rp 800 juta ini, memiliki berbagai fasilitas.

Adapun apartemen Pasar Baru Residence tersedia dalam 3 tipe, yaitu tipe studio dengan luas 30 meter persegi, tipe dengan 2 kamar tidur seluas 70 meter persegi, serta tipe dengan 3 kamar tidur dengan luas 100 meter persegi. Fasilitas yang ada, tidak berbeda jauh dari apartemen sekelasnya.

Menurut King, apartemen Pasar Baru Residence ini, akan mulai dibangun bulan April 2008, dan diharapkan selesai tahun 2009 mendatang.

Lain Pasar Baru Residence, lain pula dengan The Wave di Rasuna Epicentrum. Apartemen yang berharga Rp 300 juta hinga Rp 1 milyar itu didesain secara eco friendly. Yaitu direfleksikan dalam format 70% berupa ruang publik hijau terbuka, dan sisanya berupa bangunan apartemen itu sendiri.

Gambaran bahwa apartemen selalu mahal selama ini hanya stigma. Pada kenyataannya banyak apartemen dalam kondisi oke, tapi harganya masih dalam batas toleransi. Bahkan banyak yg menawarkan tanpa uang muka dan dapat dicicil selama 36 bulan, 48 bulan, 60 bulan. Bila Anda tertarik apartemen kelas menengah, tidak ada salahnya kita simak tips berikut.

Memiliki apartemen kini tidak lagi dipandang sebagai suatu kemewahan. Apartemen sudah sejajar dengan rumah. Namun tetap saja, hidup di gedung pencakar langit akan memberikan nuansa yang beda jika dibandingkan dengan menetap di rumah biasa. Banyak kelebihan yang bisa dinikmati penghuni apartemen.

Sumber: realestat.wordpress.com

Menjual Properti dengan Feng Shui

Wednesday, May 6th, 2009

Ilmu Feng shui sebagai ilmu tata letak bangunan Cina kuno sudah berkembang pesat dewasa ini. Bahkan di Indonesia penggunaanya tak hanya untuk mendesain bangunan rumah secara perorangan. Tapi para developer dalam pengembangan kota maupun kawasan perumahan pun konon sudah mulai menerapkan ilmu Feng shui. Benarkah demikian?

Penerapan ilmu feng shui dalam tata letak bangunan oleh masyarakat etnis Tionghoa secara perorangan, mungkin sudah jamak kita ketahui. Tapi bagaimana dengan aplikasi ilmu kuno asal Tiongkok tersebut dalam pengembangan suatu kawasan perumahan? Apakah developer-developer terkemuka Indonesia juga melakukannya? Tak mudah menjawabnya memang.

Dalam soal kepercayaan kepada ilmu feng shui, Presiden Director agen real estate Indoproperty, Hary Jap memang membedakan adanya feng shui yang ilmiah dan feng shui yang tidak ilmiah. Dan Hary agak kesulitan saat menghadapi pembeli properti yang menggunakan feng shui tak ilmiah.

“Satu contoh ekstrim yg pernah dialami oleh marketing kita, dimana jadi tidaknya suatu transaksi properti itu ditentukan oleh ahli feng shui pendamping,” ujar Hary.

Pengembang Summarecon Kelapa Gading memang sejak awal sudah menyadari kepekaan sebagian besar penghuni kawasan yang dijuluki sebagai Kepala Naga tersebut terhadap ilmu feng shui yang cukup tinggi.

Pertanyaan-pertanyaan kritis konsumen properti terhadap pengembang terkait dengan aplikasi ilmu feng shui, sebagian besar memang hampir senada. Salah satunya adalah soal berapa jumlah anak tangga.

Kalau Paramount Serpong menyebut motto, connecting nature to life sebagai pengejawantahan prinsip-prinsip feng shui dalam produk mereka, tidak demikian dengan Summarecon Kelapa Gading. Adrianto Adi menyebut apa yang mereka kembangkan di Gading Park View sebagai wujud kongkrit penerapan fengshui di proyek-proyek yang dikembangkan oleh PT. Summarecon Agung, Tbk. ini.

Lain developer, lain pula broker properti. Kalau developer berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan konsumen, broker justru lebih bisa bersiasat dengan pertimbangan feng shui yang dipercaya konsumen.

Konsumen properti saat ini memang makin kritis dan teliti ketika mereka akan memutuskan untuk membeli suatu proyek properti. Dan demi pelayanan terhadap konsumennya, developer yang baik tentu akan berusaha untuk melayani berbagai kebutuhan konsumennya yang spesifik tersebut, termasuk mengaplikasikan pertimbangan ilmu feng shui.

Sumber: realestat.wordpress.com

Pilihan Properti di Kawasan Kepala Naga

Wednesday, May 6th, 2009

Ada satu kawasan di Jabodetabek yang selalu menyita perhatian konsumen properti, yakni kawasan kepala naga. Daerah mana saja yang masuk kawasan kepala naga? Dan benarkah kawasan tersebut akan membawa hoki bagi penghuninya? Atau kepercayaan terhadap tuah kawasan tersebut hanya sekedar mitos?

Kalau ada kawasan di Jakarta yang propertinya tumbuh dengan stabil dan menjadi pilihan hunian serta tempat usaha favorit bagi penghuninya, kawasan ’kepala naga’ tentu adalah jawabnya. Menyebut namanya, kepala naga, orang tentu akan mengasosiasikan istilah itu dengan simbol-simbol populer dalam ilmu fengsui.

Memang, kalau merujuk daerah-daerah yang biasa disebut sebagai kawasan kepala naga di Jakarta, daerah-daerah tersebut kebanyakan memang dihuni oleh warga Tionghoa. Kelompok masyarakat yang memang dikenal mempercayai ilmu fengsui dalam pengambilan keputusan-keputusan penting hidupnya. Tapi tampaknya istilah kepala naga yang belakangan makin populer bagi sebagian konsumen properti ibukota itu tak dikenal dalam literatur ilmu fengsui. Setidaknya menurut pakar feng shui. Dr. Ir. Mauro Purnomo, M.Arch.

“Istilah kepala naga dalam istilah feng shui manapun tidak pernah ada. Itu salah kaprah. Kemungkinan besar istilah kepala naga ada kaitannya dengan persaingan bisnis.” Menurut Mauro, dalam ilmu feng shui, istilah yang dikenal adalah gunung naga atau naga hijau.

Terlepas dari benar tidaknya istilah kepala naga dalam ilmu feng shui, yang pasti beberapa kawasan di sebelah barat dan utara Jakarta yang berimpit dengan laut Jawa banyak diminati oleh kalangan entrepreneur yang tak lain adalah kaum Tionghoa.

“Masyarakat atau konsumen yang percaya feng shui, mereka biasanya memang pilih daerah yang dekat kepala naga. Kenapa? Karena daerah ini dipercaya dapat memmberikan keberuntungan, memberikan kemakmuran dan hoki. Jadi itu kenapa masyarakat suka tinggal di sana,” ujar Budhi S. Gozali.

Lalu daerah mana saja di Jakarta yang bisa dikategorikan daerah kepala naga? “Kalau daerah kepala naga di Jakarta, setahu saya adalah Kelapa Gading, Ancol, Pluit, Muara Karang, Pantai Indah Kapuk, dan juga Jakarta Barat spt Cengkareng dan sekitarnya merupakan daerah kepala naga,” sambung Budhi.

Begitu istimewanya kawasan kepala naga, membuat pengembang-pengembang terkemuka seperti tak mau ketinggalan untuk memasok produk-produk properti mereka di kawasan tersebut. KelompokSummarecon misalnya, sudah sejak tahun 1975 mengembangkan kawasan Kelapa Gading menjadi suatu kawasan favorit yang tumbuh dengan pesat hingga sekarang.

Pengembang lain, seperti Agung Sedayu Group bahkan melakukan kongsi dengan kelompok lain seperti Agung Podomoro dan Salim Group untuk menggarap proyek properti di kawasan kepala naga. Salah satunya adalah Bukit Golf Mediterania di Pantai Indah Kapuk.

Sementara itu kawasan lain yang dianggap masuk kategori kawasan kepala naga, yakni daerah Pluit, juga tak luput dari bidikan pengembang-pengembang besar. Agung Podomoro Group misalnya kini sedang mengembangkan kawasan hunian dan bisnis terpadu CBD Pluit di atas lahan seluas lebih 10 dari hektar. Selain membangun garden house, di kawasan tersebut juga akan berdiri lima menara kondominium, dua menara perkantoran serta deretan ruko. Karena sebagian besar masayarakat yang tinggal dan mengembangkan usaha di kawasan kepala naga adalah warga Tionghoa, mereka ternyata mempunyai kharakteristik yang khas.

Menurut Paulus Heryanto, Chief Executive Officer CBD Pluit, masyarakat yang tinggal di daerah Pluit dan sekitarnya kebanyakan adalah pedagang dan enterpreuner sejati yang lebih realistis dan benar-benar berhitung dalam mengonsumsi suatu produk, termasuk produk properti. Oleh karena itu pengembang lebih memilih untuk menawarkan produk yang benar-benar pasti dan nilainya setara dengan uang yang dikeluarkan konsumen.

Begitulah, terlepas istilah kepala naga hanya sekedar mitos atau memang faktual, yang pasti, bencana banjir yang sempat menimpa satu daerah di kawasan kepala naga, ternyata tak menyurutkan minat masyarakat untuk tetap memiliki hunian dan tempat usaha di kawasan tersebut.

Sumber: realestat.wordpress.com