| Berlomba Mengusung Konsep Go Green |
|
|
|
Isu pemanasan global telah mempengaruhi orientasi bisnis properti untuk lebih memedulikan kelestarian lingkungan. Karena itu, bisnis properti tahun 2008 akan dicirikan dengan maraknya pengembang mengusung konsep "go green" dalam setiap produk mereka. Secara bisnis, konsep properti "hijau" saat ini memang sangat marketable dan tampaknya tidak terlalu menjadi beban investasi bagi pengembang. Beberapa produk hunian diminati konsumen bukan lantaran faktor lokasi atau siapa pengembangnya, tapi karena konsep green-nya. Konsep ini sangat menjual untuk masyarakat menengah yang peduli pada kelestarian lingkungan. Menurut M Ridwan Kamil, pengamat tata kota, banyak ruang hijau saja tidak cukup. Ia menyebut lima komponen yang seharusnya dipenuhi dalam konsep green city. Yang pertama disebut compact development, dimana bangunan itu harus saling berdekatan. "Jakarta sebenarnya dari udara terlihat ompong, banyak bolong-bolongnya. Compact development akan mereduksi utilitas sehingga kebutuhan infrastruktur jadi lebih pendek," jelasnya. Yang kedua adalah hidup di area berkepadatan tinggi, dalam hal ini tinggal di apartemen atau town house sehingga mengurangi ketergantungan jarak dari satu tempat ke tempat lain. Dua komponen pertama ini membuat kota menjadi kecil tapi padat. Ridwan melihat itu yang seharusnya menjadi pilihan kota Jakarta, bukan justru melebar ke sana - ke sini. Ketiga, kota harus mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, dengan membuat misalnya busway, subway, monorail dan sebagainya. Tempat-tempat yang sudah menerapkan sistem ini terbukti secara sosial menjadi lebih baik. Kemudian, unsur-unsur ekologi di kota juga harus seimbang, proporsi ruang hijau, jumlah pohon harus memadai. Garden city seperti di Singapura bisa menjadi percontohan. Komponen terakhir adalah bagaimana bangunan-bangunannya bisa membuat suhu lebih rendah dan membuang emisi karbon lebih kecil. Bagaimana menciptakan bangunan yang hemat energi, misalnya bangunan yang memiliki green roof atau bangunan yang bisa mendaur-ulang air dan material lain. Masalahnya, Indonesia masih memiliki hambatan budaya. Orang masih ingin punya rumah yang ada teras depan dan halaman belakangnya, sehingga konsep-konsep tadi masih sulit diterapkan di kawasan penyangga Jakarta (sub-urban) seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Sebagai solusinya, Ridwan mensyaratkan minimal sistem public transport betul-betul dibenahi dulu. Selain itu, para pengembang dan konsumen perumahan sub-urban harus lebih memerhatikan konsep landscape. Orang sering melupakan konsep landscape dalam kawasan perumahan yang sebetulnya sangat penting. Kebanyakan developer menjual gaya bangunan, jarang yang melakukan investasi signifikan di landscape-nya. Mengantisipasi isu ini, beberapa proyek hunian di Jabodetabek, baik apartemen maupun landed house mengedepankan konsep lingkungan dalam kampanye produknya. Ambil contoh The Wave yang dibangun Bakrie Group. Apartemen yang berdiri di superblok Rasuna Epicentrum ini menerapkan konsep green architecture dengan 70 persen lahan dialokasikan sebagai ruang hijau terbuka. Garden roof top di area low rise apartemen merupakan area podium bersama untuk bersosialisasi dan juga bermanfaat untuk mereduksi panas matahari, suara, serta polusi udara. Seasons City, sebuah proyek superblok Agung Podomoro di Jakarta Barat akan membangun water park hijau seluas 1,8 hektar di ketinggian 45 meter yang sekaligus berfungsi sebagai paru-paru kawasan. Di Jakarta Selatan, Gandaria City meng-hire traffic consultant untuk mengantisipasi lalu-lintas di sekitarnya. Di keempat sisi area yang dikembangkan Pakuwon Group tersebut akan dilakukan pelebaran jalan untuk meringankan pertambahan beban kendaraan. Sementara township Kemang Village menugaskan konsultan khusus dari Belanda untuk menangani masalah banjir. Sebagaimana sudah dilakukan Lippo di Karawaci dan Cikarang, Kemang Village juga menerapkan sistem water treatment sendiri yang terbukti berdampak bagus bagi lingkungan. Casa Goya Residence di Jakarta Barat mempromosikan tiga kata, yakni Green, Smart and Limited. Green diartikan lanskapnya lebih banyak taman dan ruang terbuka hijau. Casa Goya juga menerapkan gerakan ramah lingkungan dengan membuat resapan air hujan dan konsep zero waste, yakni kegiatan untuk tidak mengeluarkan sampah dengan melakukan pemilahan sampah. Tidak hanya pada konsep hunian yang belum jadi, penataan lingkungan banyak dilakukan pengembang di kawasan perumahan real estat-nya. Seperti yang beberapa kali dilakukan pengembang Pantai Indah Kapuk bersama lembaga lain dengan melakukan rehabilitasi/restorasi hutan mangrove. Pada akhirnya, kelestarian lingkungan memang menyentuh kepentingan bersama. SUMBER: KOMPAS |
| < Prev | Next > |
|---|
| Apartment |
| Mansion / Housing |
| Kiosk |
| Real Estate Articles |
| Jakarta Apartments List |
| Jakarta Mansions List |
| Bodetabek RealEstate List |
| Bali Villa List |
| Condominium |
| Energy Save |
| Furniture |
| Industrial Estate |
| Investment |
| Landed House |
| Mortgage |
| Resort |